DAFTAR ISI

Minggu, 04 Juli 2010

BIOGRAFI Prof. DR. H. Abdul Mukti Ali

Dia adalah tokoh pembaru Islam yang mempelopori liberalisme pemikiran Islam di era Indonesia modern. Selain sebagai penggagas liberalisme Islam di Indonesia, Prof Dr HA Mukti Ali terkenal sangat moderat dan mau menghargai pluralisme, baik internal masyarakat Islam maupun eksternal di luar Islam.


Mukti Ali juga sangat peduli pada dunia pendidikan. Kepedulian itu terlihat dari kegemaran mengajar di kampus tanpa perhitungan dengan waktu. Meskipun kondisi almarhum sudah lanjut usia, ia masih mengajar di rumah. Mahasiswanya sering datang ke rumah untuk menerima kuliah darinya.


Mukti Ali ialah alumnus Universitas Islam Indonesia, yang dahulu bernama Sekolah Tinggi Islam. Ia lahir di Cepu, 23 Agustus 1923. Sejak berumur delapan tahun, Mukti mengenyam pendidikan Belanda di HIS.


Ketika berumur 17 tahun, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Termas, Kediri, Jawa Timur. PP Tremas ini juga menghasilkan alumnus KH. Ahmad Zabidi (mantan Dubes untuk ArabSaudi), Let.Jend. M. Sarbini dan KH. Ali Ma'shum (pengasuh PP Krapyak dan Rosi Aam PB NU).

Mukti Ali muda, yang fasih berbahasa Inggris ini, kemudian melanjutkan studi ke India setelah perang dunia ke dua. Ia menyelesaikan pendidikan Islam di India dengan memperoleh gelar doktor sekitar tahun 1952. Karena belum puas mengecap pendidikan, ia melanjutkan studi ke McGill University, Montreal, Kanada mengambil gelar MA.
Sejak ia menuntut ilmu di McGill University, Montreal, Kanada gagasan pembaruan Mukti Ali sebenarnya telah terlihat jelas. Mukti Ali misalnya kerap kali menulis soal-soal gagasan pembaruan keislaman Muhamamd Abduh dan Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Meskipun saat itu, Mukti Ali masih pada taraf membandingkan gagasan pembaruan kedua tokoh pembaru tersebut, namun benih-benih pembaruan Ali itu menjadi entry point penting kelak dalam perkembangannya.

Pesan-pesan pembaruan Islam yang disampaikan Mukti Ali memiliki gaya dan caranya yang khas. Berbeda dengan kebanyakan pemikir dan pembaru Islam lainnya, Mukti Ali cukup lihai dan cenderung mengintrodusir gagasan liberal Islam sedemikian rupa sehingga relatif tidak menimbulkan perlawanan dari kalangan yang tidak sepaham dengannya.

Yang unik dari cara mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini, bahwa Mukti Ali melakukan pembaruan dan gagasan Islam liberal secara tidak gegap gempita, tidak bergaya pamflet (provokatif) dan disertai dengan solusi. Kalaupun ada kritikan terhadap pemikiran tertentu Mukti Ali, itu lebih disebabkan sikapnya terhadap para pemikir liberal di masanya.

Misalnya terhadap Ahmad Wahib atau Harun Nasution, Mukti Ali dinilai sebagian kalangan sebagai memberi perlindungan kepada mereka daripada memberi kritik. Bagi Mukti Ali, membiarkan pemikiran liberal tumbuh akan lebih menguntungkan dan kondusif bagi perkembangan Islam modern. Karena itulah dapat dipahami bila tokoh ini tidak mengkritisi liberalisme Islam yang dikembangkan para intelektual semacam Ahmad Wahib maupun Harun Nasution.

Mukti Ali melakukan pembaruan Islam secara ilmiah dan cenderung menjaga hubungan baik dengan kalangan Masyumi ketika itu. Bahkan dia sendiri pernah menjadi sekretaris M Natsir, mantan ketua umum Masyumi. Selain itu, Mukti Ali juga membina dan mencoba merujukkan hubungan baik antara NU dan Muhammadiyah, serta mempelopori gerakan kerukunan antar-agama.

Dalam konteks pemerintahan, Mukti Ali terlihat bagaimana keinginan kuatnya agar umat Islam ini masuk pemerintahan. Makanya ketika terjadi pro-kontra berkaitan penerimaan Asas Tunggal Pancasila, Mukti Ali menyarankan umat Islam agar menerimanya. Yang penting umat Islam dapat masuk pemerintahan dan memperjuangkan nasib mereka. Dan itu pula yang dilakukan Mukti Ali, baik melalui Depag maupun IAIN.


Karier politiknya berada di puncak ketika menjabat Menteri Agama tahun 1971 hingga tahun 1978. Saat itulah ia antara lain menggagas model kerukunan antar-umat beragama. Bagi Mukti Ali, gagasan kerukunan beragama ini amat penting untuk menciptakan harmonisasi kehidupan nasional. Apalagi di masa-masa itu, konflik antar-agama kerap kali terjadi.

Gagasan ini menjadi begitu penting, kala itu, mengingat kondisi kehidupan antar-umat beragama yang kerap kali dilanda krisis hingga menimbulkan konflik fisik. Terapi yang digagas Mukti Ali dan diimplementasikan melalui Departemen Agama tersebut, secara mendasar dilandasi oleh prinsip keadilan Islam yang mempercayai tiga hal penting, yakni; kebebasan hati nurani secara mutlak, persamaan kemanusiaan secara sempurna, dan solidaritas dalam pergaulan yang kokoh.

Meski tak lagi menjabat sebagai menteri agama, gagasan dan pemikirannya ini tetap diteruskan oleh penggantinya, kala itu, Alamsyah Ratu Perwiranegara. Bahkan kemudian oleh penggantinya itu dikembangkan menjadi konsep "Trilogi Kerukunan" yang meliputi kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dan pemerintah.

Hingga masa senjanya, Mukti Ali telah menulis puluhan buku, antara lain: Beberapa Persoalan Agama Dewasa ini; Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia; Muslim Bilali dan Muslim Muhajir di Amerika; Ijtihad dalam Pandangan Muhammad Abduh, Ahmad Dahlan, Muhammad Iqbal; Ta'limul Muta'alim versi Imam Zarkasyi; Memahami Beberapa Aspek Ajaran Islam; Asal Usul Agama; dan Alam Pikiran Islam Modern di India dan Pakistan.


Ia meninggal dunia dalam usia 81 tahun pada 5 Mei 2004, sekitar pukul 17.30 di Rumah Sakit Umum Dr Sardjito, Yogyakarta. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga di Desa Kadisoko, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Ia meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan empat orang cucu. Istrinya, Siti Asmadah, memandang Mukti Ali sebagai sosok suami yang sangat sabar. "Bapak itu jarang sekali marah-marah dan sabar sekali," tuturnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SAYA MINTA ANDA UNTUK KOMPLEN SAYA MOHON SETELAH BACA MAU JELEK ATAU BAIK ( PLS TO COMMEN TO ARTIKEL BLOG BEFOR READING ARTIKEL ME PLS)

Welcome To DUNIA KARYA UTAMA.BLOGSPOT.COM