DAFTAR ISI

Jumat, 25 Juni 2010

LANGKAH MERENSENSI BUKU FIKSI

Langkah-langkah yang digunakan untuk meresensi buku di atas akan lebih kompleks ketika peresensi menulis resensi novel. Karya sastra memiliki cara penilaian yang unik. Hal ini disebabkan materi atau unsur-unsur yang membangun karya sastra berbeda dengan buku nonfiksi. Dalam meresensi buku sastra, peresensi harus dapat menyampaikan dua lapis penilaian atau pertimbangan, yakni nilai literer dan manfaat untuk hidup. Nilai literer terungkap dari kegiatan yang disebut apresiasi sastra dan manfaat untuk hidup terungkap dari apresiasinya atas kebutuhan masyarakat.

Langkah awal yang harus dilakukan oleh peresensi dalam menulis resensi novel adalah melakukan apresiasi sastra. Menurut Samad (1997:54), apresiasi memiliki pengertian memahami, menikmati, menghargai, dan menilai. Dalam hubungannya dengan kegiatan menulis resensi novel, peresensi tidak akan dapat menikmati karya itu sebelum ia memahami dan juga merasakan apa yang terkandung dalam novel tersebut.

Secara teoritik, terdapat tiga langkah dalam mengapresiasi karya sastra. Pertama, apresiasi sebagai keterlibatan jiwa. Dalam kegiatan ini, peresensi memahami masalah-masalah, merasakan perasaan-perasaan, dan dapat membayangkan dunia khayal yang diciptakan sastrawan. Kedua, peresensi menghargai dan mengagumi penguasaan sastrawan di dalam memilih, mengolah, dan menyusun lambang-lambang hingga sastrawan dapat menyampaikan pengalaman secara memadai. Ketiga, peresensi memasalahkan dan menemukan relevansi pengalaman yang ia dapat dari karya sastra dengan pengalaman kehidupan nyata yang dihadapi (Samad, 1997:54—55).

Lebih spesifik, ketika dalam menulis resensi novel, seorang peresensi harus mengetahui dan memahami unsur-unsur yang membangun novel. Unsur-unsur yang membangun novel diantaranya latar, perwatakan, cerita, alur, bahasa, dan tema (Samad, 1997:58).

Latar (setting) dalam novel bukan hanya sekedar background, artinya bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Latar bisa berarti banyak, yaitu tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentu dengan waktak tertentu akibat situasi lingkungan atau zamannya, cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu (Sumardjo dan Saini, 1988:76). Samad (1997:5 menyederhanakan pendapat ahli sebelumnya, yaitu latar mencakup lingkungan geografis, sejarah, sosial, dan bahkan lingkungan politik atau latar belakang tempat kisah itu berlangsung.

Unsur perwatakan, menurut Samad (1997:5 mengandung dua makna. Pertama, perwatakan sebagai dramatik pesona yang menunjuk pada pribadi yang mengambil bagian di dalamnya. Kedua, menunjukkan kualitas khusus perwatakan pada pribadi tertentu. Ada beberapa cara yang dapat peresensi lakukan untuk memahami karakter suatu tokoh seperti yang diajukan oleh Sumardjo dan Saini (1988:65), yakni (1) melalui apa yang diperbuatnya, tindakan-tindakanny a, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis, (2) melalui ucapannya, (3) melalui penggambaran fisik tokoh, (4) melalui pikiran-pikirannya, dan (5) melalui keterangan langsung dari penulis.

Unsur cerita dalam sebuah novel merupakan hal yang sangat penting. Nurgiyantoro (1995:90) menjelaskan bahwa cerita memiliki peranan sentral dalam sebuah novel. Tanpa unsur cerita, eksistensi sebuah novel tak mungkin berwujud. Bagus tidaknya cerita yang disajikan, selain akan memotivasi seseorang untuk membacanya, juga akan mempengaruhi unsur-unsur pembangun novel yang lain.

Unsur alur dalam sebuah novel terkadang disamakan dengan plot. Keduanya sama-sama berhubungan dengan jalan cerita dan peristiwa. Hanya saja, penyamaan ini sebenarnya kurang tepat. Menurut Stanton (dalam Nurgiyantoro, 1995:113) plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Plot dimanifestasikan melalui perbuatan, tingkah laku, dan sikap tokoh-tokoh (utama) cerita. Plot merupakan cerminan atau bahkan berupa perjalanan tingkah laku para tokoh dalam bertindak, berpikir, berasa, dan bersikap dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Samad (1997:60) memaparkan bahwa bahasa novel dapat dibagi menjadi dua, yaitu bahasa yang bersifat puitis dan yang bersifat prosais. Bahasa yang bersifat puitis maksudnya bahasa yang digunakan memiliki kekuatan sepert puisi. Fungsinya untuk mendukung konteks makna atau untuk menimbulkan keindahan. Bahasa yang prosais artinya dalam novel tersebut digunakan ungkapan sehari-hari yang pada dasarnya cenderung tidak memperhatikan unsur-unsur puitis.

Unsur tema didefinisikan oleh Stanton dan Kenny (dalam Nurgiyantoro, 1995:67) adalah makna yang dikandung oleh sebuah cerita. Pendapat ini dijelaskan lebih lanjut oleh Hartoko dan Rahmanto (dalam Nurgiyantoro, 1995:6 bahwa tema merupakan gagasan dasar umum yang mennopang sebauh karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantis dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan . Dengan demikian, tema dapat dipandang sebagai dasar cerita dan gagasan dasar umum sebuah karya novel.

Demikianlah, langkah-langkah dalam meresensi novel. Sebuah novel bisa saja membisu di rak-rak buku berdebu tanpa seorang pun ingin menjamahnya. Menulis resensi dapatlah dipandang sebagai usaha membukakan mata pembaca akan kemenarikan sebuah novel, selain juga dapat dipandang sebagai bentuk apresiasi terhadap sebuah karya. Selamat mencoba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SAYA MINTA ANDA UNTUK KOMPLEN SAYA MOHON SETELAH BACA MAU JELEK ATAU BAIK ( PLS TO COMMEN TO ARTIKEL BLOG BEFOR READING ARTIKEL ME PLS)

Welcome To DUNIA KARYA UTAMA.BLOGSPOT.COM